Giat Lucy Kurniasari dan BKKBN Jatim di Balai RW V, Lempung Tama Surabaya

0
1 views
giat-lucy-kurniasari-dan-bkkbn-jatim-di-balai-rw-v-lempung-tama-surabaya
Bangga Kencana || Surabaya – Sinergi BKKBN Jatim Bersama Mitra Kerja Komisi IX DPR RI Dra. Lucy Kurniasari dalam sosialisasi Promosi KIE Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja Komisi IX DPR RI, yang dilaksanakan di Balai RW V, Lempung Tama, Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya. Selasa (25/10/2022).

giat-lucy-kurniasari-dan-bkkbn-jatim-di-balai-rw-v-lempung-tama-surabayaHadir dalam kegiatan ini Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati, MM yang pada kesempatan tersebut diwakili Kepala Bidang KBKR, Waluyo Ajeng Lukitowati, S.ST, M.M., anggota Komisi IX DPR RI Dra. Lucy Kurniasari, dan Rini Pudjiwati, SE, M.Si, Penyuluh KB Kota Surabaya.

Presiden Joko Widodo memberikan mandat kepada BKKBN untuk menjadi ketua Percepatan Penurunan Stunting sehingga prevalensi stunting dapat diturunkan menjadi 14% di tahun 2024. Guna mencapai hal tersebut, perlu kerjasama dan sinergi bersama lintas sektor satunya mitra Komisi IX DPR RI.

Menurut hasil Survei Status Gizi Indonesia 2021 angka prevalensi stunting di Jawa Timur adalah 23,3 persen. Sedangkan di Kota Surabaya hasil SSGI 2021 masih menunjukkan angka 28,9 persen.

Bu Lucy menjelaskan terkait menyiapkan remaja agar sehat secara jasmani dan rohani BKKBN melakukan kegiatan pemantapan kesehatan reproduksi melalui sekolah-sekolah dengan program GenRe (Generasi Berencana).

giat-lucy-kurniasari-dan-bkkbn-jatim-di-balai-rw-v-lempung-tama-surabaya“Saat ini hanya 10 persen remaja kita yang mau mengkonsumsi sayur, mayoritas lebih suka mengkonsumsi makanan siap saji yang tinggi lemak dan minim kandungan serat. Padahal remaja membutuhkan kombinasi zat gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya,” ujar bu Lucy.

“Kita ingin mempersiapkan generasi emas, anak-anak hebat dan cerdas. Oleh sebab itu kita harus memastikan anak-anak kita bisa mendapatkan gizi yang cukup, dengan makan sayur dan makanan yang kaya protein. Dengan menjaga asupan gizi ini juga bisa mencegah terjadinya stunting,” lanjut Lucy.

Remaja yang mendapat asupan gizi kurang optimal khususnya remaja putri bisa menderita anemia, bila remaja ini nanti menjadi calon ibu besar risikonya untuk melahirkan bayi stunting.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati, MM yang pada kesempatan tersebut diwakili Kepala Bidang KBKR, Waluyo Ajeng Lukitowati, S.ST, MM dihadapan masyarakat Lontar menyampaikan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita. Hal ini bisa terjadi akibat kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan dan rendahnya kualitas kesehatan remaja karena kurangnya asupan gizi seimbang khususnya pada remaja putri.

Tiga hal yang selalu kami kampanyekan pada remaja, hindari menikah di usia terlalu muda, hindari seks pranikah dan napza. Usia ideal untuk menikah bagi perempuan 21 tahun dan laki-laki  25 tahun, karena pada usia tersebut pria dan wanita sudah cukup matang untuk membina keluarga dan melahirkan keturunan.

BKKBN juga bekerja sama dengan kementrian agama memberi edukasi kepada calon pengantin agar paling tidak 3 bulan sebelum menikah melakukan pemeriksaan kesehatan dan mengisi aplikasi Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil). Sehingga bisa dipastikan calon pengntin sehat sebelum menikah. Sehingga menurunkan risiko melahirkan bayi stunting.

Selain itu untuk para remaja hindari diet berlebih, makan sayur dan buah, kandungan makanan tinggi protein seperti ikan dengan sumber bahan pangan lokal yang mudah ditemui di sekitar.

Sementara itu Rini Pudjiwati, SE, M.Si, Penyuluh KB Kota Surabaya menerangkan Menurunkan stunting perlu sinergi bersama lintas sektor dan masyarakat. Menurutnya Penyuluh Keluarga Berencana tidak henti-hentinya berkolaborasi dengan masyarakat, pemerintah Kota Surabaya dan kader di lini lapangan.

“Baru-baru ini kami juga mengumpulkan kader Tim Pendamping Keluarga yang sekaligus kader Surabaya Hebat untuk diberikan capacity building untuk meningkatkan kemampuan pendampingan keluarga berisiko stunting. Dan inovasi dari  Kota Surabaya dalam waktu dekat kinerja TPK ini bisa dipantau melalui aplikasi sayang warga,” ungkap Rini.

Di akhir acara Lucy berpesan, untuk menghindari stunting dan risiko penyakit kanker serviks bisa diupayakan dengan menghindari kehamilan 4T atau 4 Terlalu, yaitu kehamilan di usia terlalu muda, terlalu tua, kehamilan terlalu dekat jaraknya dan terlalu sering.

giat-lucy-kurniasari-dan-bkkbn-jatim-di-balai-rw-v-lempung-tama-surabaya“Upayakan hanya ada satu balita dalam 1 keluarga dalam satu waktu, sehingga anak mendapat pengasuhan secara optimal dari orang tua dan memaksimalkan tumbuh kembangnya,” pesan Lucy.

“Atur jarak kehamilan dengan Program KB. Bagi pasangan usia subur dan ibu pasca salin bisa dilayani di faskes terdekat dan ini semua gratis,” pungkas Rini. @Red

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here