Giat BKKBN Jatim dan Anggota Komisi IX DPR RI dalam Program Percepatan Penurunan Stunting di STAI Al Ustmani Bondowoso

0
7 views
giat-bkkbn-jatim-dan-anggota-komisi-ix-dpr-ri-dalam-program-percepatan-penurunan-stunting-di-stai-al-ustmani-bondowoso
Bangga Kencana || Bondowoso – Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur ( BKKBN Jatim ) bersama mitra Wakil ketua Komisi IX DPR RI Dr. Nihayatul Wafiroh, MA, menggelar Kegiatan Promosi dan KIE Program Percepatan Penurunan Stunting Wilayah Khusus Provinsi Jawa Timur, di STAI Al Ustmani, Bondowoso. Sabtu (15/10).

giat-bkkbn-jatim-dan-anggota-komisi-ix-dpr-ri-dalam-program-percepatan-penurunan-stunting-di-stai-al-ustmani-bondowosoHadir dalam kegiatan ini Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur yang diwakili Koordinator Bidang Dalduk, Uni Hidayati, ST, MM, Wakil ketua Komisi IX DPR RI Dr. Nihayatul Wafiroh, MA., dan Anisatul Hamidah, M.Si Kepala Bidang Kependudukan dan KB Dinas PPKB Kabupaten Bondowoso.

Wakil ketua Komisi IX DPR RI Dr. Nihayatul Wafiroh, MA, pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Sumber Daya Manusia adalah kunci dalam pembangunan dan stunting adalah salah satu persoalan yang menghambat pembentukan SDM unggul.

“Masyarakat harus paham betul berkaitan dengan hal ini, mulai dari merencanakan pernikahan, merencanakan kehamilan dan kelahiran dengan baik agar anak-anak yang dilahirkan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga tercipta SDM unggul ke depan. Komisi IX DPR RI terus mengawal bagaimana persoalan stutning ditangani dengan benar dan sungguh-sungguh oleh pemerintah,” kata Nihayatul.

Lebih lanjut, Nihayatul menyampaikan “Saat ini masih ada pandangan masyarakat banyak anak banyak rejeki. Meninggalkan generasi penerus yang kuat atau berkualitas itu jauh lebih penting daripada sekedar jumlah yang banyak. Orangtua memiliki tanggung jawab mendidik anak-anak agar menjadi anak yang berkualitas, yang tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.

Dalam kegiatan ini Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur yang diwakili Koordinator Bidang Dalduk, Uni Hidayati, ST, MM berpesan kepada masyarakat Bondowoso bahwasanya penurunan dan pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, dari remaja, calon pengantin, dan PUS terutama ibu hamil dan keluarga baduta.

giat-bkkbn-jatim-dan-anggota-komisi-ix-dpr-ri-dalam-program-percepatan-penurunan-stunting-di-stai-al-ustmani-bondowoso“Pemahaman masyarakat tentang pentingnya masa 1000 Hari Pertama Kehidupan diharapkan akan merubah perilaku menuju pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan gizi yang optimal di masa awal kehidupan tersebut. Selain peran ibu, peran ayah dan keluarga lainnya sangat dperlukan dalam mencegah dan menurunkan stunting. Ayah dan keluarga lainnya harus berperan dalam pengasuhan terutama pada ibu hamil sampai anak usia 5 tahun. Diantaranya melalui pemeriksaan kehamilan secara teratur, pemberian ASI Eksklusif, pemberian ASI dan makanan pendamping ASI sampai anak usia 2 tahun sangat penting dalam rangka mencegah stunting” terang Uni.

Sementara itu, Anisatul Hamidah, M.Si Kepala Bidang Kependudukan dan KB Dinas PPKB Kabupaten Bondowoso menyebut pemicu terjadinya stunting di Bondowoso diantaranya adalah adanya pernikahan dini yang merupakan bagian dari budaya masyarakat di Bondowoso disamping kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) terutama saat usia remaja.

“Pemerintah Daerah Bondowoso menerapkan strategi salah satunya dengan menggandeng konsorsium perguruan tinggi untuk melakukan kampanye perubahan perilaku, dan mengantisipasi  stunting dari hulu hingga hilir. Bentuk kegiatannya antara lain melalui pembentukan SSK (Sekolah Siaga Kependudukan) dan pengembangan Kelompok PIK R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja),” terangnya.

Untuk para orang tua balita ada program SOTH (Sekolah Orang Tua Hebat) agar para orangtua cerdas dan terampil dalam mengasuh anak balitanya sehingga dapat membentuk generasi penerus berkualitas.

giat-bkkbn-jatim-dan-anggota-komisi-ix-dpr-ri-dalam-program-percepatan-penurunan-stunting-di-stai-al-ustmani-bondowosoProgram-program lainnya juga digalakkan untuk mendidik dan memberdayakan perempuan untuk meningkatkan bargaining power perempuan terhadap tekanan menikah di usia dini. Apa yang dilakukan pemerintah Bondowowo memerlukan dukungan dari tokoh agama dan tokoh masyarakat dengan turut mengedukasi masyarakat terutama dalam upaya mengurangi pernikahan dini. @Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here