Sosialisasi BKKBN Jatim dalam Rangka Penurunan Stunting di Situbondo

0
5 views
sosialisasi-bkkbn-jatim-dalam-rangka-penurunan-stunting-di-situbondo
Bangga Kencana || Situbondo – Perwakilan BKKBN Jatim melaksanakan kegiatan Sosialisasi Promosi KIE 1000 HPK Melalui Internalisasi Pengasuhan Balita dalam Rangka Penurunan Stunting kepada Masyarakat, bertempat di Puskesmas Panarukan kabupaten Situbondo. Senin (11/10/2022).

sosialisasi-bkkbn-jatim-dalam-rangka-penurunan-stunting-di-situbondoKegiatan dihadiri oleh Kepala Perwakilan BKKBN Jatim yang diwakili oleh Sub Koordinator PEK Bidang KSPK Perwakilan BKKBN Jatim Yuni Dwi Tjadikijanto, SE., Penyuluh KB dan Perwakilan PKK Kecamatan di wilayah Kabupaten Situbondo serta kader COE BKB, BKR, BKL dan UPPKA ini dibuka secara resmi oleh Bapak Drs. M. Nur Hidayat, M.Pd selaku Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencan Kabupaten Situbondo.

Dalam kegiatan kali ini, Perwakilan BKKBN Jawa Timur melakukan dukungan dan fasilitasi dalam menurunkan angka Stunting dengan memberikan dukungan dan fasilitasi ke 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan pemasangan stiker yang berisi pesan 1000 HPK di rumah keluarga sasaran.

sosialisasi-bkkbn-jatim-dalam-rangka-penurunan-stunting-di-situbondoHal ini juga bertujuan untuk mendukung proyek prioritas nasional dalam penurunan stunting yang lebih masif,  serta pencapaian target proyek prioritas nasional promosi KIE 1000 HPK sejumlah 1.474.500 keluarga ibu hamil, keluarga baduta dan keluarga balita.

Yuni Dwi Tjadikijanto, SE., selaku Sub Koordinator PEK Bidang KSPK Perwakilan BKKBN Jawa Timur, dalam sambutannya menyampaikan bahwa masalah Stunting disebabkan oleh faktor multidimensional tidak hanya masalah gizi salah satunya adalah pengasuhan di masa 1000 HPK. Untuk itu perlu kerjasama semua pihak untuk menangani masalah Stunting. Di Tahun 2045 kita punya visi untuk mencetak generasi emas, yaitu generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

“Bicara stunting, yang harus diperhatikan adalah golden period di masa 1000 HPK dimana kita harus benar-benar memperhatikannya. Jika terlambat, genereasi bangsa akan kalah bersaing dengan negara-negara lain. Target tahun ini adalah 1.474.500 yang harus menerima sosialisasi 1000 hpk salah satunya dengan pemasangan stiker pada sasaran keluarga Ibu Hamil, Keluarga Baduta, dan Keluarga yang memiliki Balita”, Pesan yuni.

“Dalam pelaksanaan strategi ini, perlu dukungan kerjasama berbagai pihak, baik itu dari OPD KB, Penyuluh KB, TPK serta dari seluruh kader poktan BKB, BKR, BKL dan UPPKA,” imbuhnya.

“Sehingga melalui kegiatan internalisasi pengasuhan balita dalam upaya penurunan stunting kepada masyarakat di berbagai tingkatan wilayah sampai desa diharapkan mampu sebagai kanal penyebarluasan informasi tentang pentingnya 1000 HPK,” tambah Yuni.

Beliau juga menambahkan, “Bagi TPK yang memasang stiker, diharapkan juga mempunyai data dan melaporkanya supaya suatu saat ketika ada permintaan data mengenai keluarga ibu hamil, baduta dan balita kita sudah memiliki”.

Pada kesempatan yang lain, Nur Hidayat selaku Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencan Kabupaten Situbondo menyampaikan dalam sambutanya bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahan yang baik mengenai pola pengasuhan di usia emas (1000 HPK). Bkkbn mendukung penuh kegiatan Stunting melalui kelompok BKB dan hari ini dilaksanakan dalam bentuk Internalisasi Pengasuhan Balita dalam rangka Penurunan Stunting kepada masyarakat dengan sasaran Keluarga Ibu Hamil, Baduta, dan Balita dan di tandai dengan pemasangan stiker.

sosialisasi-bkkbn-jatim-dalam-rangka-penurunan-stunting-di-situbondoSetelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh OPD-KB dan Penyuluh KB yang telah mengikuti pertemuan di tingkat Provinsi. Di akhir kegiatan, peserta membuat Rencana Tindak Lanjut sebagai peta pelaksanaan kegiatan Internalisasi Pengasuhan Balita di masing-masing kecamatan hingga desa.

Dengan strategi yang terus digencarkan oleh BKKBN, diharapkan dapat mencapai Angka prevalensi ditargetkan sesuai Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 yaitu dapat duturunkan menjadi 14 persen di tahun 2024. @Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here