Pembinaan dan Pengembangan Keluarga Reproduksi Digelar BKKBN Jatim di Kabupaten Malang

0
5 views
BKKBN
Bangga Kencana || Malang – BKKBN Jatim Gelar Pembinaan dan Pengembangan Keluarga Reproduksi di Komunitas Risiko Tinggi dan Remaja di Era Milenial Tahun 2022 dalam pemantapan informasi seputar kesehatan reproduksi remaja untuk generasi bebas dari Stunting bertempat di Hotel Shanaya Resort Jl. Jalan Raya, Perum GPA, Ngijo, Kec. Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Senin (25/07/22).

Hadir dalam kegiatan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Dra. Maria Ernawati, MM., Koordinator Bidang KBKR Waluyo Ajeng Lukitowati, S.ST.MM., Rektor Kepala Universitas Negeri Malang Dr. Umi Dayati, M.Pd., Owner Hipnoterapi Surabaya Mas’ul Hadi, S.Psi, Cht.

Sesuai mandat Presiden RI sebagai Ketua Pelaksanaan Program Percepatan Penurunan Stunting dengan target penurunan sebesar 14% di tahun 2024 dari kondisi 5 tahun lalu 37 % turun menjadi 27,6% di tahun 2019. Hal ini merupakan tugas amanah yang berat BKKBN tidak bisa berkerja sendirian dalam menurunkan Angka Stunting diperlukan sinergitas, kolaborasi demi mewujudkan target 14% di Tahun 2024. Penguatan pelaksanaan Stunting ini ditandai dengan dikeluarkannya Perpres 72 Tahun 2021 yang menegaskan diperlukan suatu Rencana Aksi Nasional dalam upaya Percepatan Penurunan Stunting dengan melibatkan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah Kab/Kota, Pemerintah Desa, Pemangku Kepentingan.

Program Prioritas BKKBN dalam mendukung Prioritas Nasional (PN) meningkatkan SDM berkualitas dan berdaya saing antara lain adalah peningkatanakses dan mutu pelayanan kesehatan, dengan penekanan pada penguatan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) dan peningkatan upaya promotif dan preventif melalui Kegiatan Prioritas Peningkatan Kesehatan Ibu Anak, KB dan Kesehatan
Reproduksi.

BKKBN Jatim

Salah satu sasaran program BKKBN saat ini adalah: Generasi X, Millenials, dan Zillenial. Lebih Fokus pada millennials (usia 15-39 th). Generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, dalam konsep diri, konsep hidup, dan penggunaan teknologi. Dari jumlah 265 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta merupakan generasi millennials. Lalu, pendekatan sebelumnya untuk era Baby Boomer (lahir di era 1946- 1955) sudah tidak relevan.

Stunting merupakan gangguan tumbuh kembang pada anak akibat kurang gizi kronis karena kurangnya gizi yang berkepanjangan. Kondisi ini menyebabkan anak mengalami keterlambatan tumbuh dimana tinggi badan lebih pendek dari anak lain seusianya.

Penyebab utama stunting adalah kurangnya asupan gizi pada janin saat masih dalam kandungan. Faktanya, stunting telah menjadi masalah serius di bidang kesehatan dunia. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan kasus stunting di Indonesia terbilang meningkat. Menurut data Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2020, saat ini prevalensi stunting masih di angka 23,5 persen
dari target 21,1 persen.

BKKBN Jatim

Melalui RehatPro (Remaja Sehat Kespro) Bebas Stunting Pencegahan stunting sejak dini dapat dilakukan sejak dari remaja. Remaja beresiko tinggi untuk melahirkan generasi stunting jika tidak dicegah sedini mungkin. Dengan memperhatikan dari kebersihan alat reproduksi, asupan gizi yang sehat khususnya zat besi, sehingga tidak terjadi anemia bagi remaja perempuan maupun laki-laki. Menurut Kementrian Kesehatan, 23% remaja perempuan dan 12% remaja laki-laki mengalami anemia, yang sebagian besarnya disebabkan oleh kekurangan zat besi. Hal tersebut dikarenakan kurang optimalnya asupan gizi yang diperoleh serta kurangnya aktivitas. Pada perempuan, risiko anemia lebih tinggi karena perempuan mengalami menstruasi.

Menurut Data World Bank tahun 2020, Indonesia menempati peringkat ke115 dari 151 negara dalam hal prevalensi stunting. Tak hanya fisik yang pendek, dampak stunting meliputi gangguan perkembangan otak, dapat mengganggu kemampuan belajar anak, gangguan pertumbuhan fisik serta gangguan  metabolisme yang bisa menyebabkan berbagai penyakit ketika dewasa. Namun, tidak perlu khawatir, stunting dapat dicegah sejak awal kehamilan.

BKKBN Jatim

Tujuan sosialisasi Kesehatan Reproduksi dan Program Percepatan Penurunan Stunting melalui perwakilan remaja kelompok tertentu dan Ketua Genre 38 Kab/Kota se-Jawa Timur adalah terlaksananya orientasi penurunan Stunting melalui Remaja Umum dan Ketua
Genre di Kabupaten/Kota, Perhatian Kesehatan Reproduksi Remaja menjadi Primadona di kalangan Remaja dalam upaya menurunkan stunting mulai komunitas Remaja di 38 Kab/Kota se-Jawa Timur dan meningkatkan implementasi penggerakan promosi dan konseling Kesehatan Reproduksi di Komunitas Risiko Tinggi @red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here