Dukung Program Bangga Kencana, BKKBN Jatim Bersinergi dengan Pemkab Mojokerto dalam Percepatan Penurunan Stunting

0
9 views
BKKBN Jatim
Bangga Kencana || Mojokerto – Kaper BKKBN Jatim, Dra. Maria Ernawati M.M., ditemani Sekretaris Badan mengunjungi Bupati Mojokerto, dr. Ikfina Rahmawati, M.Si., untuk membahas konvergensi penurunan stunting dan dukungan program Bangga Kencana di Kabupaten Mojokerto. Selasa (29/03/2022).

BKKBN Jatim

dr. Ikfina menyambut rombongan Bu Erna di ruang pertemuan Bupati Mojokerto. Tak lupa dr. Ikfina mengajak jajarannya, yaitu Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bappeda, Sekda, Kepala Dinas P2KBPP. Selain itu, Beliau juga turut mengundang Ahli Komunikasi Suko Widodo untuk dilibatkan dalam pembentukan desain strategi Tim Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Mojokerto.

Menurut Data SSGI 2021, prevalensi stunting di Kabupaten Mojokerto adalah 27,4%. Walaupun masih tergolong tinggi dan diatas rata-rata Provinsi Jawa Timur, namun Kabupaten Mojokerto cukup berhasil menurunkan stunting selama 2 tahun terakhir ini. Maka dari itu, BKKBN Jatim meminta dukungan dari Bupati Mojokerto agar dapat mewujudkan konvergensi percepatan penurunan stunting melalui beberapa strategi dengan pendekatan komunikasi perubahan perilaku.

Mengawali diskusi, Bu Erna menyampaikan bahwa kunjungan tim BKKBN Jatim adalah untuk mengajak Bupati Mojokerto turut melakukan aksi percepatan penurunan stunting. Rupanya, hal yang sangat positif dari dr. Ikhfina, Beliau telah menyusun strategi awal dan telah membentuk tim percepatan penurunan stunting yang diketuai oleh Kepala Bappeda Kabupaten Mojokerto.

BKKBN Jatim

“Ternyata kedatangan kami ini di waktu yang tepat karena sudah ada preambule strategi percepatan penurunan stunting yang digagas oleh Ibu Bupati, ” terang Bu Erna.

Saat ini menurut Bu Erna, BKKBN Jatim juga sudah membentuk tim pendamping keluarga di Kabupaten Mojokerto sejumlah 2.586 tim yang tersebar di desa-desa di Kabupaten Mojokerto dan juga sedang melakukan pembentukan Tim Satgas Stunting serta bekerjasama dengan konsorsium perguruan tinggi.

“Tim Pendamping Keluarga ini terdiri dari 3 unsur, yaitu Bidan, Kader KB dan Kader PKK. Tim ini sudah siap untuk turun ke desa-desa di Mojokerto. Selanjutnya, kami juga bekerjasama dengan sektor strategis lain, yaitu membentuk konsorsium perguruan tinggi yang diketuai oleh Prof. Sumarmi dari Unair. Selain itu, kami juga sedang membentuk Satgas Stunting untuk bisa membantu melakukan analisa percepatan penurunan stunting, dan Satgas ini nanti bisa diajak untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah,” lanjut Bu Erna.

Selanjutnya Suko sebagai ahli komunikasi menjelaskan strategi percepatan penurunan stunting, “Percepatan penurunan stunting ini memerlukan pendekatan pola komunikasi perubahan perilaku dan ini melibatkan perilaku publik, Aktor perubahan perilaku kalau yang kekinian saat ini adalah melalui influencer dan tokoh-tokoh masyarakat.”

BKKBN Jatim

Melalui pendekatan tersebut, Suko memberikan usulan menarik yaitu mem-breakdown tahapan komunikasi perubahan perilaku, yang disebut 4P: riset, desain, aksi dan evaluasi. Setelah merancang strategi dengan melibatkan tim komunikasi yang handal seperti kepala desa ataupun tim pendamping keluarga, perlu menyusun pesan-pesan tentang stunting yang akan diviralkan kepada masyarakat.

“Inilah yang harus dilakukan oleh semua pejabat publik, yaitu mengkomunikasikan satu pesan kepada masyarakat, stunting stunting dan stunting sehingga masyarakat memiliki awarness tentang stunting. Kita perlu mengroyok dan memboomingkan pesan ini agar bisa mencapai perubahan perilaku masyarakat,” ujar Suko.

Setelah melalui dikusi, dr. Ikhfina mengajak semua yang ada di ruangan tersebut untuk berkomitmen bersama untuk melakukan aksi percepatan penurunan stunting. Yang paling penting bagaimana semua pihak bisa melakukan perubahan perilaku, membuat strategi yang berbeda dan bekerja bersama-sama untuk menyadarkan masyarakat tentang betapa bahayanya stunting ini karena bisa menjadi penghalang kita semua mencapai generasi emas.

“Sembari kita memperbaiki data ya, karena untuk melakukan pemetaan harus memerlukan data by name by address, tetapi yang tidak memerlukan data yang bisa kita lakukan itu harus segera kita lakukan. Sehingga ketika sudah ada desain yang kita lakukan, teman-teman dari bidang terkait sudah melakukan aksi-aksi nyata, kita bisa melakukan monitoring dan evaluasi, ini kan sebenarnya kerja bareng kerja bersama, “tutup dr. Ikhfina mengakhiri diskusi. @red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here