Berkolaborasi Dengan Media, BKKBN Jatim Tingkatkan Percepatan Penurunan Angka Stunting

0
15 views
BKKBN Jatim
Bangga Kencana || Surabaya – Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur ( BKKBN Jatim ) terus berupaya melakukan percepatan penurunan stunting, salah satunya sinergi dengan insan jurnalistik.

BKKBN Jatim

Gencarnya pemberitaan dan edukasi terkait stunting kepada masyarakat melalui media massa diharapkan bisa meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pemenuhan nutrisi

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati M.M., mengatakan bahwa berbicara terkait  penurunan angka stunting sangat luas, mulai dari remaja, persiapan pernikahan, pasangan usia subur (PUS) yang merencanakan kehamilan, wanita hamil, PUS yang memiliki bayi dibawah usia dua tahun (baduta), PUS yang memiliki bayi usia lima tahun (balita).

BKKBN Jatim

“Saat ini masyarakat sudah familiar dengan kata stunting, sehingga penyuluh KB kalau bicara dengan orang tua yang anaknya stunting tidak bisa langsung menyatakan stunting tetapi menggunakan pilihan kata yang lebih halus yaitu balita atau badutanya beresiko,” kata Erna di depan perwakilan wartawan yang ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/03).

Erna menjelaskan diharapkan setiap media massa bisa memberikan edukasi terkait stunting dengan bahasa yang lebih mudah diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan segmentasi pembaca atau penonton media massa tersebut. Sehingga program pemerintah dalam rangka penurunan angka stunting di tahun 2024 bisa terealisasi.

BKKBN Jatim

“Banyak sekali isu yang bisa digali oleh teman-teman jurnalistik bila ingin menulis tentang stunting. Bisa dari sisi remaja, calon pengantin ataupun pasangan usia subur,” jelasnya.

Untuk remaja, sambung Erna, sangat penting khususnya pada remaja putri. Banyak remaja putri yang banyak melakukan diet untuk menjaga bentuk tubuh dan berat badan sangat berpotensi terjadinya anemia. Bila seorang ibu hamil mengalami anemia itu sangat beresiko terjadinya stunting pada janin yang ada di dalam kandungan. Begitu juga dengan PUS yang punya Baduta, tingginya angka stunting bukan karena masalah ekonomi tetapi PUS yang sibuk dan tidak memahami kebutuhan nutrisi baduta sehingga baduta mengalami stunting. @red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here